Rabu, Oktober 28

Pengalaman Pramuka Trengggalek 16 Hari Menolong Korban Gempa di Padang

Sehari Obati 35 Pasien, Diserang Lintah

Brigade Penolong Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Trenggalek kembali dari Padang, dua hari lalu. Apa saja upaya pertolongan mereka terhadap korban gempa?
 
Siang hari dua hari lalu, tim yang berisi sepuluh orang yang semuanya laki-laki, baru saja menghadap Ketua Kwartir Cabang Pramuka Trenggalek Mahsum Ismail. Mereka melaporkan kegiatan yang dikerjakan selama di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Setelah itu, mereka ngobrol santai di salah satu tempat makan di Jalan Panglima Sudirman Trenggalek. Kemudian mengalirkan cerita tentang suka duka yang mereka alami di Kabupaten Agam, tepatnya di Desa Gragahan, Kecamatan Lubuk Basung.

Sepuluh brigade penolong itu terdiri dari enam resquer atau penolong, serta empat paramedik. Mereka berada di Desa Gragahan selama 16 hari. Beragkat pada 9 Oktober dan kembali pada 25 Oktober lalu.
Gempa yang terjadi pada 30 September lalu juga memporak-porandakan Desa Gragahan. Seperti disampaikan Agus Munib, salah satu tim penolong, berada di lokasi terpencil. Jaraknya sekitar 130 km dari Padang. "Desanya terpisah karena di pegunungan. Masyarakatnya juga masih sangat tradisional," ucap Agus.

Begitu tiba di desa tujuan, tim mendata setidaknya 68 (dari 78) rumah warga yang hancur. Rumah yang kebanyakan semi permanen tersebut mengalami rusak berat, sehingga tidak layak dihuni. Akibatnya, warga tidak berani tinggal di dalam rumah.

Melihat kondisi tersebut, tiga langkah yang dilakukan tim. Pertama, mendirikan posko penanganan gempa. Di posko tersebut, tim membuat rencana-rencana upaya membantu perbaikan rumah warga. "Kalau untuk membantu semuanya jelas tidak mungkin. Kami hanya bisa menangani sekitar 30 persen saja. Kami memberikan sampel rumah yang layak huni," lanjut lelaki berperawakan tinggi ini.

Sosialisasi untuk menempati rumah layak huni tersebut dilakukan di posko yang dibangun. Di sana, tim memberikan pengarahan agar warga tidak tinggal di tenda-tenda. Terutama untuk menghindari penularan penyakit pasca bencana, warga harus tidur di tempat tidur, yang tingginya minimal 30 cm dari tanah. Jika warga tidur di tenda dan tempat tidur langsung di atas tanah, maka akan mudah terserang penyakit.

Selain mensosialisasikan pola hidup sehat, juga ada program trauma healing. Yaitu upaya agar warga bisa menghilangkan trauma atau ketakutan setelah bencana. Misalnya dengan melakukan outbond ringan, dan anjangsana ke rumah-rumah warga.

Ketiga, di posko tersebut sekaligus sebagai posko kesehatan. Di sana, empat orang paramedik melayani pengobatan gratis pada warga. "Dalam satu jam kami harus menangani 30-35 orang. Lumayanlah, kami mendapat bantuan dari Puskesmas Lubuk Basung, bersama dokter Silvi dan bidan Harmimi," ujar Arid Eko, salah satu paramedis.

Selain kendala sulitnya akomodasi dan transportasi, tim merasakan kesulitan dalam berkomunikasi. Karena yang banyak tinggal di Desa Gragahan adalah generasi tua, sedangkan generasi mudanya banyak yang merantau. Kesulitan yang paling dirasakan adalah kendala bahasa. "Misalnya waktu meerangkan tentang kesehatan, mereka sering tertawa, karena tidak paham saat kami ngomong dengan Bahasa Indonesia," kata Aris.

Solusinya, tim akhirnya mengajak Caca, bocah setempat berusia sembilan tahun. Bocah ini putus sekolah karena keterbatasan biaya dari keluarganya. Bersama Caca, tim melakukan tugas-tugasnya. Setiap kali ada yang tidak dipahami warga, Caca-lah yang menterjemahkan. Begitu juga sebaliknya.

Karena kondisi geografis yang masih di pedesaan, tim juga menjadi sasaran gigitan lintah. Di sana juga mash banyak binatang melata lainnya. Sayang, sesuai jadwal yang diberikan kwartir nasional Pramuka, tim tidak bisa tinggal lebih lama di sana.

"Usulan kami ke pemerintah, warga masih sangat membutuhkan relawan. Terutama untuk tenaga psikiater dan guru. Karena trauma yang dirasakan warga begitu mendalam. Selain itu juga kegiatan belajar mengajar yang mengalami banyak gangguan," kata Agus.***

Jumat, Oktober 23

Kejaksaan Selidiki Pungli di RSUD dr Soedomo

TRENGGALEK-Dugaan pungutan liar (pungli) terhadap pasien miskin di rumah sakit daerah (RSUD) dr Soedomo direspon kejaksaan negeri (Kejari) dan Inspektorat Trenggalek. Dua institusi ini melakukan penyelidikan. Pasalnya tidak menutup kemungkinan pungli tersebut bisa mengarah ke tindak pidana. Langkah itu diungkapkan Kajari Trengglek Fentje E. Loway melalui Kasi Intel Bayu Danarko.

Menurut Bayu, untuk membuktikan apakah rumah sakit plat merah ini melakukan pungli atau tidak, pihaknya sedang melakukan penyelidikan.

Dipastikan kejaksaan bakal membentuk tim untuk mengkroscek ke lapangan. Dan jika memang terjadi tindak pidana korupsi, kejaksaan akan memproses sesuai undang-undang yang berlaku. Namun sebelumnya, kejaksaan akan mempelajari dulu permasalahan tersebut. "Kami tidak akan segan-segan memproses jika diketahui melanggar aturan hukum," kata saat ditemui di kantor kejaksaan Jalan Dewi Sartika 10 Trenggalek.
Hal senada juga diungkapkan Kepala Inspektorat Trenggalek, Joko Wasono. Joko menyatakan, inspektorat telah menindak lanjuti laporan dengan menurunkan salah satu staf ke RSUD dr Soedomo. Staf tersebut akan memberi informasi tambahan, apa memang benar adanya karyawan rumah sakit tersebut melakukan pungli. Langkah lain, yakni mendalami kasus pungli ini. Apakah karyawan tersebut melakukan tindakan pungli sendiri, dengan siapa, serta ada paksaan dalam melakukan pungli terhadap orang miskin ini.

Lebih jauh dia menjelaskan, jika memang penyelidikan dan pendalam kasus ini ditemukan adanya karyawan rumah sakit yang berstatus sebagai abdi negara melakukan tindakan pungli, inspektorat bakal memberikan sanksi.

Mengenai sanksi yang diberikan, Joko menambahkan, tergantung dari berat ringannya pelanggaran. Jika pelanggaran ringan bentuk sanksi bisa berupa teguran baik itu lisan maupun tulisan. Untuk abdi negara ini yang melakukan pelanggaran sedang bentuk sanksinya berupa penurunan pangkat. Lebih parah lagi, bisa di pecat dari status PNS. "Tapi sanksi tersebut tidak bisa kami paparkan ke public, sebab kami hanya melaporkan hasil pemeriksaan ke pada Bupati," katanya.

Seperti diberitakan kemarin, petugas RSUD dr Soedomo ditengarai melakukan pungli. Modusnya, menarik sejumlah uang ke pasien yang hendak meninggalkan rumah sakit namun tidak diberi kuitansi atau tanda terima. Alasannya mengada-ada. Seperti biaya ganti sabun. Nominal besaran pungli juga bervariasi. Mulai Rp 30 ribu hingga Rp 70 ribu per pasien.Yang menyedihkan lagi, pasien yang dipungli rata-rata warga miskin. Yakni yang menggunakan kartu jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) atau Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). (Sumber Jawa Pos)

Selasa, Oktober 20

Gauli Pacar, Huni Bui

TRENGGALEK - Tak hanya pacaran biasa, BG, 20; dan Ln, 16; sejoli dari Durenan ini mengaku sudah melakukan hubungan intim laiknya suami istri. Tak pelak orang tua Ln berang lantas melaporkan BG ke polisi. Kemarin, pemuda yang bekerja serabutan ini meringkuk di tahanan Mapolres Trenggalek.

Orang tua Ln mengaku tidak terima, lantaran anak perempuannya masih duduk di bangku kelas dua SMA. Alasan lainnya, sejak berpacaran dengan BG, Ln jadi lebih sering keluyuran, jarang ada di rumah. Terakhir terjadi sebelum akhirnya orang tua melapor ke polisi.

Ln yang tidak pulang sempat dicari oleh orang tuanya. Setelah akhirnya pulang, Ln ditanyai dan mengaku pacaran dengan BG. BG sendiri tidak membantah mengajak Ln kencan di luar. Setidaknya dua kali dia mengajak Ln kencan. Sekali pernah dilakukannya di Prigi, dan satu kali lagi di salah satu hotel di Tulungagung.

"Menerima laporan dari orang tua korban, kami menindaklanjuti, menangkap tersangka saat berada di rumahnya," kata KBO Satreskrim Polres Trenggalek Iptu M. Chairil.

BG bakal dijerat pasal 82 UU 23 tahun 2002 tentang Perlindugan Anak, dengan ancaman hukuman minimal tiga tahun dan maksimal 15 tahun penjara. BG sendiri tidak menyesali perbuatannya. "Karena kami memang suka sama suka," kata BG yang menutupi wajahnya saat dimintai keterangan polisi kemarin.

Rabu, Oktober 14

MUI Sulsel: Pin Nabi Muhammad Palsu dan Menghina Islam

Heboh beredarnya pin bergambar pria yang disebutkan sebagai Nabi Muhammad di Makassar langsung mendapat reaksi keras dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan (Sulsel). MUI menegaskan, gambar tersebut palsu dan menghina Islam.

"Itu palsu dan menghina umat Islam," kata Ketua MUI Sulsel, KH. Sanusi Baco LC, yang ditemui wartawan di kediamannya, Jl Kelapa Tiga, Makassar, Rabu (14/10/2009)

Sanusi mengimbau aparat berwenang mencegah peredaran pin tersebut. Dia juga meminta penyebar pin itu bertanggung jawab.
"Bagi yang menemukannya harus dimintai pertanggungjawaban. Dia harus menjelaskan dari mana mengetahui bahwa gambar tersebut sudah pasti gambar Nabi," ungkap Sanusi.
Pin yang menghebohkan itu berbentuk bundar, berdiameter sekitar 5 cm dan berwarna dasar hijau muda. Pada pin itu, gambar wajah pria yang disebutkan sebagai Nabi Muhammad sangat tampan.
Hidungnya tampak mancung dengan bibir yang tidak tipis maupun tebal. Alisnya juga terlihat tebal rapi. Demikian pula dengan matanya yang berwarna cokelat. Kepalanya tertutup sorban putih bergaris-garis hijau. Di sebelah telinga kanan terlihat gulungan sorban yang menyerupai kembang.
Gambar hanya tampak sampai leher saja. Di bawah gambar, ada tulisan Arab berbunyi Muhammad Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Alihi Wassalam.
Tulisan Muhammad Rasulullah berhuruf besar. Hampir sepuluh kali lebih besar dibandingkan tulisan Sallallahu Alaihi Wa Alihi wa Sallam

cah ngares

Ngares adalah sebuah desa di utara kota Trenggalek, Desa Ngares terkenal dengan indahnya panorama pegunungan nan sejuk dan alami, kali temon adalah tempat pariwisatanya Desa Ngares, jika anda berkunjung ke desa Ngares jangan lupa mampir ke Temon dan nikmati indahnya pegunungan Ngebrak. salam buat sobat-sobat Trenggalek semua, selamat bergabung di blog saya...

salam dari cah ngares